Banjartegallinggah

From Vilage To Globalism

Banjar Net

Ditulis oleh banjartegallinggah di/pada 20 Juni 2009


web-pasphoto-udengE-Banjar  Tegallinggah/ Sanggar Telematika

Bersinergi  dengan  Lembaga Lain mewujudkan  “ Telecenter  di tingkat  Desa “

Pemberdayaan Masyarakat Yang Berbasis  TI ( Teknologi Informasi ).

Klo orang Pariwisata / Pelaku Pariwisata berbicara  selalu  tentang  alam yang indah, semilir angin mendesir, kesejukan alam Pegunungan, keramahan orang Bali dan lain-lain yang selalu memukau dan membuat setiap wisatawan terpaku akan cerita tersebut.

Coba kalau anak-anak muda / kita berbicara, mendiskusikan tentang Desa , apa yang akan terlintas dibenak persepsi  kita, mungkin biasa kita punya persepsi tentang hal-hal yang sifatnya kurang baik, apalagi muncul berita perkelahian antar warga banjar, kesepekang, dan segudang cerita lainnya yang kurang mengenakkan hati.

Sesungguhnya apa sih masalah-masalah krusial yang ada dilevel grass root / akar rumput, Hal ini tidak bisa dilepaskan perjalanan  / perkembangan dari banjar yang tanpa sadar mereka dihadapkan pada perubahan-perubahan yang terjadi baik yang bersifat Lokal maupun Global.

Masalah :

  • Di Banjar , di Desa  juga di Pemerintahan, asyik  membangun phisik, penguatan SDM ( Sumber Daya Manusia hampir minim sentuhan.
  • Kelembagaan yang ada di Desa bentukan Pemerintah, banyak yang tumpang  tindih tidak bersinergi, asal dibentuk, tidak dipikirkan keberlanjutannya,
  • Image Tentang Desa identik kemiskinan, keterbelakangan,dan kurang memiliki masa depan.

Kira-kira seperti itu masalahnya, terus kita sekarang mau Bagaimana…?

Dari beberapa permasalahan diatas dan persepsi yang sudah terbentuk, setidaknya kita bisa mengurai beberapa permasalahan, sekaligus mencari solusi , yang mana salah satu yang akan kami angkat adalah mendekatkan Teknologi Infprmasi dengan Masyarakat, agar secara pelan-pelan mereka bisa memahami dan memanfaatkan teknologi secara benar.

Program yang coba akan kami kembangkan, seperti tema diatas, bagaimana Sanggar Telematika/ e-banjar bisa dikembangkan perannya, memperluas diri menjadi lembaga Telecenter  yang memiliki  peran  Pemberdayaan Terpadu yang berbasis TI ( Teknologi Informasi ).

Secara umum program ini bertujuan meningkatkan akses dan kapasitas komunitas Masyarakat Desa yang konotasi Mayoritas merupakan Petani pedesaan dalam menopang pengembangan usaha dan solidaritas sosial. Dalam pelaksanaan nantinya lembaga CTC akan bersinergi dengan Sanggar Telematika menjadi Lembaga yang mempasilitasi keberadaan Masyarakat dan menjadi Lembaga Pendamping mengarah nantinya terwujudnya Telecenter dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi khususnya Petani, dan Lapisan masyarakat lainnya  khususnya menjembatani Informasi khususnya masalah yang paling krusial yaitu tentang informasi Benih, Produksi dan Pasar yang nantinya bisa bersinergi dengan  Dinas/ Instansi terkait.

Permasalahan ketidakberdayaan Masyarakat, khusunya komunitas petani di wilayah Desa, Kabupaten Karangasem  ,hampir terjadi diseluruh Wilayah Indonesia , khusus di Wilayah Karangasem yang mendapat Predikat Kabupaten miskin dan Tertinggal, yang mana secara geografis letak wilayah diujung Timur Pulau Bali, yang disebut Mutiara dari Timur Pulau Bali yang tidak kena lintasan jalur lalulintas Propinsi, hal ini praktis mengakibatkan product-product pertanian atau product lainnya seperti Handycraft agak kesulitan mencarikan celah terobosan Pasar. Kemiskinan ini juga banyak dipengaruhi oleh kondisi kemiskinan informasi  dan Miskin Promosi  karena rendahnya kapasitas dan akses pada penggunaan sarana dan prasarana teknologi informasi.

Profesi Petani menjadi suatu Profesi yang tidak menarik bagi Generasi muda, disamping identik dengan kemiskinan, kondisi kotor, tidak punya masa depan dan tidak punya Gengsi/ kebanggaan. Karena persepsi  yang terbentuk seperti itu anak muda meninggalkan Desanya ke Kota, tidak mau berfrofesi sebagai Petani, kalaupun di Desa belum bekerja lebih baik  dan lebih bergengsi mereka menjadi Pengangguran. Lantas kedepannya siapa yang akan mengolah lahan Pertanian ….. ????  dan menjadi Petani dinegeri ini ….????

Program CTC dengan fungsi Terpadu ini diharapkan akan memberikan kontribusi peningkatkan kapasitas dan akses komunitas petani pedesaan Kabupaten Karangasem  pada penggunaan TI dalam pemenuhan kebutuhan informasi dasar seperti pertanian, pendidikan, kebijakan public, pelayanan sosial, kesehatan dan lain-lain secara cepat dan murah melalui pelayanan internet, email. Meningkatkan solidaritas sosial antar   petani yang berdampak pada penguatan posisi tawar petani dan memperkuat jalinan kerjasama dengan beragam stakeholders (komunitas, sektor private dan public).  CTC di Kabupaten Karangasem yang mengambil Percontohan/ Pilot Project  di Desa Tegallinggah Kec Karangasem , akan menjadi media pembelajaran dan komunikasi  antar petani yang dapat mendorong munculnya kesadaran untuk meningkatkan solidaritas antar petani di tingkat Desa, kecamatan. Lebih luas lagi.

Permasalahan komunitas pertanian yang paling urgent adalah lemahnya posisi tawar mereka terhadap informasi harga pasar dan mata rantai perdagangan dari petani ke konsumen yang relatif panjang (petani – tengkulak desa – Pengepul – Pasar Konsumen). Kombinasi dari permasalahan tersebut berdampak pada rendahnya posisi tawar petani terhadap nilai jual harga hasil pertanian. Dengan memanfaatkan Teknologi Informasi setidaknya akan menjawab kemiskinan Informasi, Pencitraan Perfomance Petani/ Image Petani.  Disamping itu juga  memberikan manfaat dalam memperluas komunikasi, jaringan dan pengembangan wawasan dan pengetahuan baik dalam bidang pertanian, pendidikan (e-learning), kesehatan (e-medicine), pengembangan usaha (e-commerce), tata pemerinahan dan kebijakan (e-government) dan lain-lain bagi komunitas pertanian (pengurangan kemiskinan informasi).

Didalam mewujudkan program ini, kami mencoba bersinergi dengan beberapa pihak, termasuk mendekati beberapa Dinas / Instansi, dan komponen masyarakat lainnya. Ataupun kebetulan bapak/ ibu yang punya idealisme dan punya kepedulian  untuk pemberdayaan Masyarakat Desa bisa memberikan masukan atau informasi, kalau ad  Ide seperti ini bagaimana kita bisa mewujudkan dan menggerakkan dengan berbagai  kendala dan sumber daya yang tersedia.

Klo ada masukan silahkan berikan comentar di rubrik ini, atau bisa email langsung ke Prusugi@balesekaa.com, atau prusugi@gmail.com.

Tegallinggah, Karangasem – bali.

Komang Sugiarta.

Ditulis dalam ICT - E-Banjar | Leave a Comment »

Upakara Bebantenan … Untuk direnungkan.

Ditulis oleh banjartegallinggah di/pada 20 Juni 2009

Apakah Kita Akan Menjadi Generasi

“ Anak Mule Keto “     atau    “Generasi Instan “

dalam hal Upakara Bebantenan

Bali dikenal dengan sebutan Seribu Pura, Bali island Of God, Bali Penduduknya Mayoritas Agama Hindhu dan Hampir setiap hari “ Tiada Hari Tanpa Upacara”. Upacara Bebantenan identik dengan Pengembangan kasanah Kebudayaan yang dilandasi oleh Ajaran Agama Hindu.  Upacara Agama Hindhu di Bali Identik dengan Nafas Kebudayaan Bali, sehingga betapa besar peranan Upacara di Bali, bahkan hampir setiap hari  mewarnai proses Kehidupan orang Bali. Begitu besar Unsur Upakara di Bali yang mengandung makna Pelestarian Budaya dengan Pemahaman Sastra, sehingga tidak menjadi generasi yang Gugon Tuwon alias  “ Mula Keto” . Yang lebih memprihatinkan lagi trend  yang ada sekarang berubah semuanya mau serba Instan , serba gampangan dan serba praktis,akhirnya tiada kata lain “Bebantenan Beli saja biar tidak Repot “ Akhirnya dengan konsep Praktis tadi akhirnya Para Umat Hindhu  melakukan Prosesi upacara miskin pemaknaan. Lantas pertanyaannya Kenapa terjadi seperti itu …???? .

Kenapa Sanggar Telematika Tegallinggah mencoba mengangkat topic Bebantenan , mengingat Upakara Agama Hindhu di Bali  hampir tidak pernah mandeg/ berhenti , rutin terjadi  setiap hari . Upakara di Bali tidak memandang  Krisis Global , Krismon ,resesi Ekonomi,kondisi Ekonomi sedang terpuruk. Dan sesuatu dari sudut pandang lainnya yang tidak kalah pentingnya aktifitas bebantenan bisa melibatkan komponen Masyarakat cukup banyak dan pada kegiatan ini juga terselip Misi Penyelamatan Nilai Budaya yang dilandasi Agama Hindhu. Disamping hal tsb diatas, Konsep bebantenan mengandung  dimensi ekonomi sangat besar dan tentunya akan terjadi sinergi  antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya, dan akan terjadi spesialisasi dalam pengerjaan dan kecepatan pengerjaan bebantenan akan bisa dipercepat.

Juga yang tidak kalah pentingnya bahwa sarana Upakara bebantenan mayoritas dikerjakan oleh Para Perempuan Bali, yang mana bisa dikerjakan dari rumah masing-masing, sehingga kegiatan pembuatan elemen bebantenan bisa dilaksanakan sambil menunggu rumah, memelihara babi atau menunggu dan mengawasi anak-anak . Perlu diingat betapa besar peranan Perempuan Bali dalam pelaksanaan prosesi Upakara bebantenan dan memberikan sumbangsih dalam peran rumah tangga, baik dari segi ekonomi maupun dari segi pendidikan Anak. Untuk itulah cukup menarik apabila pemberdayaan Perempuan bisa dibuat optimal dalam arti  penggarapan bebantenan secara menyeluruh dengan pemahaman pemaknaan dari Symbolis yang ada didalam elemen Bebantenan berdasarkan sastra Agama..

Dan fakta dilapangan yang ada sekarang, kalaupun ada Tukang banten yang sudah melayani jasa bebantenan, maaf tanpa mengecilkan arti, tetapi faktanya Tukang banten itu sendiri kurangnya  pemahaman / pemaknaan akan arti setiap elemen dari Bebantenan tersebut. Mereka mengerjakan kebiasaan dari dulu seperti itu , mungkin dalam hati jawabannya juga “Anak Mula Keto

Pertanyaan saya akankah kita akan menjadi seperti itu ….. ????

Ditunggu komentar dan masukannya untuk penyempurnaan dari Program Pelatihan  dan pengelolaan Pelayanan Bebantenan. Suksma.

Kontributor

Sanggar Telematika Tegallinggah

Komang Sugiarta

Ditulis dalam Upakara / Bebantenan | 1 Komentar »

Desa Pekraman.

Ditulis oleh banjartegallinggah di/pada 20 Juni 2009

Berselancar di Arus Perubahan

Dalam  Ajeg Bali

Budaya Bali Yang dilandasi Agama Hindu menjadi sesuatu yang wajib  dilestarikan menyesuaikan dengan perkembangan dan seperti wacana sekarang bagaimana Ajeg Bali bisa diwujudkan dalam suasana Bali yang penuh dengan Dinamika dan Tantangan dari Luar ???

Bagaimana Budaya Bali bisa ajeg, dengan bisa berselancar diarus gelombang Perubahan, tanpa harus tenggelam ataupun melawan arus dari Perubahan itu sendiri.

Untuk mewujudkan Cita-Cita Luhur diatas selalu harus disikapi secara bijaksana dan  harus dipahami secara keseluruhan ,kenapa pergeseran nilai-nilai itu terjadi tanpa kita sadari bahwa pergeseran nilai –nilai Luhur Budaya kita sudah semakin tergerus akibat Perubahan yang terjadi begitu Dasyatnya?? ajeg Bali sangat rentan keajegannya dimasa yang akan datang mengingat Desakan Perubahan Dari Luar dalam kontek Globalisasi tanpa disadari Nilai-nilai Peradaban yang ada pada kita semakin tergerus dengan dalih diatas.Unsur  Kreatifitas memegang peranan yang sangat Strategis sehingga didalam Lembaga Asram & PKBM bisa diwujudkan aneka kreatifitas tanpa meninggalkan jati dirinya khususnya yang lagi diminati atau dibutuhkan Pasar, atau menciptakan suatu produk/ kegiatan yang diprediksikan akan dibutuhkan dan diminati oleh Pasar tanpa tercabut dari akar Budayanya sendiri dan ini merupakan terobosan yang perlu kiranya mendapatkan penekanan sehingga produk-produk PKBM bisa diperhitungkan ditingkat persaingan antar produk/ jasa layanan yang ada di Pasar baik Lokal maupun Mancanegara.

Apakah sesungguhnya ajeg Bali itu…?,  apakah kita akan bertahan di Lautan Tradisi , yang mana begitu orang mendengar kata Tradisi yang terbayang adalah adat istiadat yang merupakan warisan masa Lalu, yang sudah turun temurun yang sangat sacral untuk diadakan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan Jaman. Kenapa kita sering terjebak dengan kemasan Tradisi,  akhirnya tanpa sadar sering memasung kreatifitas warga kita sendiri yang ada di Lingkungan , baik Banjar Adat maupun Desa Adat ataupun warga kita yang ada di Perantauan . Sedangkan warga yang tidak termasuk warga Banjar Adat ataupun Desa Adat kalau mereka melakukan kesalahan atau tindak pidana hanya mereka dikenakan sangsi hukum saja. Coba kalau ada warga kita yang melakukan kesalahan yang melanggar awig, dan apalagi termasuk tindak pidana atau perdata jelas akan kena pasal berlapis, sudah kena sangsi hukum, juga kena sangsi Banjar Adat atau Desa Adat.

Sesungguhnya kemajuan di Banjar atau di Desa sangat ditentukan sekali oleh Pemimpinnya, yang mana ditingkat Banjar dipimpin oleh seorang Klian Banjar Adat atau Bendesa Adat.  Klo Pemimpinnya kebetulan SDM nya bagus maka Banjar atau Desa tersebut akan cepat mengalami kemajuan. Klo sebaliknya justru Pemimpinnya tidak akan bisa memanfaatkan Potensi Banjar atau Desa Adat, baik yang ada di Desa maupun tyang ada diperantauan.

Astungkara dengan Program Telkom membuat terobosan membuat program E-Banjar, kalau Teknologi Internet bisa digunakan / dimanfaatkan secara baik, tentu akan terjadi perubahan besar terhadap perkembangan SDM yang ada di Banjar.

Berbicara Teknologi Informasi / Internet, dan apapun itu  selalu kita harus bijak memaknai seperti kita memegang senjata / pedang bermata dua, kita harus menyadari bahwa di Dunia itu selalu dalam wujud Rwa Bhineda , ada siang ada malam, ada putih ada hitam , tergantung kita dari mana memandangnya. Ada ketakutan beberapa orang tua khawatir klo anaknya bermain Internet, jangan-jangan mereka mengakses gambar –gambar yang konotasi Porno yang belum layak untuk dilihat.  Klo dilihat dari sudut pandang lainnya ternyata anak-anak yang aktif an kreatif mencari contoh-contoh soal mata pelajaran, mencari pengetahuan Umum, mengenal Dunia lebih detail, ramalan cuaca , perkembangan Ilmu Pengetahuan dan informasi positif lainnya tentunya kehadiran Teknologi Internet akan sangat membantu anak-anak Kita .

Klo kenyataan pilihan seperti diatas lantas kita akan memilih yang mana dan Kemana Kita akan melangkah…?.

Dan kalau kita mau jujur dan memandang persoalan secara logis, betapa anak-anak dan kaum Remaja apakah mereka tidak memiliki HP…?, Ternyata Hp yang mereka bawa terkadang dari Generasi yang sudah canggih, apakah kita tahu bahwa dari HP nya mereka tidak mereka gunakan untuk mengakses Website/ Situs Internet..?, apakah kita sepenuhnya bisa mengawasi mereka

Lantas kita gimana, yang jelas kita selaku orang yang lebih dewasa atau sudah menjadi orang tua mestinya yang perlu kita berikan pembekalan pada anak-anak, bagaimana mereka bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan yang lebih penting harus kita memberikan contoh yang baik pada anak-anak kita, agar tidak seperti pepatah “Guru Kencing Berdiri anak kencing Berlari.”

Klo teman-teman ad aide/ pemikiran, silahkan memberikan Komentar atau masukan.

Komang Sugiarta

Prusugi@balesekaa.com

Ditulis dalam Budaya bali | Leave a Comment »

Hello world!

Ditulis oleh banjartegallinggah di/pada 5 Oktober 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »