Apakah Kita Akan Menjadi Generasi
“ Anak Mule Keto “ atau “Generasi Instan “
dalam hal Upakara Bebantenan
Bali dikenal dengan sebutan Seribu Pura, Bali island Of God, Bali Penduduknya Mayoritas Agama Hindhu dan Hampir setiap hari “ Tiada Hari Tanpa Upacara”. Upacara Bebantenan identik dengan Pengembangan kasanah Kebudayaan yang dilandasi oleh Ajaran Agama Hindu. Upacara Agama Hindhu di Bali Identik dengan Nafas Kebudayaan Bali, sehingga betapa besar peranan Upacara di Bali, bahkan hampir setiap hari mewarnai proses Kehidupan orang Bali. Begitu besar Unsur Upakara di Bali yang mengandung makna Pelestarian Budaya dengan Pemahaman Sastra, sehingga tidak menjadi generasi yang Gugon Tuwon alias “ Mula Keto” . Yang lebih memprihatinkan lagi trend yang ada sekarang berubah semuanya mau serba Instan , serba gampangan dan serba praktis,akhirnya tiada kata lain “Bebantenan Beli saja biar tidak Repot “ Akhirnya dengan konsep Praktis tadi akhirnya Para Umat Hindhu melakukan Prosesi upacara miskin pemaknaan. Lantas pertanyaannya Kenapa terjadi seperti itu …???? .
Kenapa Sanggar Telematika Tegallinggah mencoba mengangkat topic Bebantenan , mengingat Upakara Agama Hindhu di Bali hampir tidak pernah mandeg/ berhenti , rutin terjadi setiap hari . Upakara di Bali tidak memandang Krisis Global , Krismon ,resesi Ekonomi,kondisi Ekonomi sedang terpuruk. Dan sesuatu dari sudut pandang lainnya yang tidak kalah pentingnya aktifitas bebantenan bisa melibatkan komponen Masyarakat cukup banyak dan pada kegiatan ini juga terselip Misi Penyelamatan Nilai Budaya yang dilandasi Agama Hindhu. Disamping hal tsb diatas, Konsep bebantenan mengandung dimensi ekonomi sangat besar dan tentunya akan terjadi sinergi antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya, dan akan terjadi spesialisasi dalam pengerjaan dan kecepatan pengerjaan bebantenan akan bisa dipercepat.
Juga yang tidak kalah pentingnya bahwa sarana Upakara bebantenan mayoritas dikerjakan oleh Para Perempuan Bali, yang mana bisa dikerjakan dari rumah masing-masing, sehingga kegiatan pembuatan elemen bebantenan bisa dilaksanakan sambil menunggu rumah, memelihara babi atau menunggu dan mengawasi anak-anak . Perlu diingat betapa besar peranan Perempuan Bali dalam pelaksanaan prosesi Upakara bebantenan dan memberikan sumbangsih dalam peran rumah tangga, baik dari segi ekonomi maupun dari segi pendidikan Anak. Untuk itulah cukup menarik apabila pemberdayaan Perempuan bisa dibuat optimal dalam arti penggarapan bebantenan secara menyeluruh dengan pemahaman pemaknaan dari Symbolis yang ada didalam elemen Bebantenan berdasarkan sastra Agama..
Dan fakta dilapangan yang ada sekarang, kalaupun ada Tukang banten yang sudah melayani jasa bebantenan, maaf tanpa mengecilkan arti, tetapi faktanya Tukang banten itu sendiri kurangnya pemahaman / pemaknaan akan arti setiap elemen dari Bebantenan tersebut. Mereka mengerjakan kebiasaan dari dulu seperti itu , mungkin dalam hati jawabannya juga “Anak Mula Keto”
Pertanyaan saya akankah kita akan menjadi seperti itu ….. ????
Ditunggu komentar dan masukannya untuk penyempurnaan dari Program Pelatihan dan pengelolaan Pelayanan Bebantenan. Suksma.
Kontributor
Sanggar Telematika Tegallinggah
Komang Sugiarta